Herding Behaviour

Bagaikan kerumunan lebah yang terbang mengikuti sang ratu kemana saja, demikianlah perilaku investor di pasar modal. Keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada faktor fundamental, melainkan kemana kerumunan lebah akan terbang!
Krisis finansial Amerika Serikat pada tahun 2008 memberikan dampak negatif ke pasar modal Indonesia. Harga saham tergerus sekalipun fundamental perekonomian dan mayoritas perusahaan publik kita cukup baik. Semuanya berawal dari aksi melepas saham oleh investor asing yang tengah membutuhkan likuiditas. Kondisi ini diperparah sikap investor domestik yang tidak mau ketinggalan: bagaikan kerumuman lebah terbang mengikuti sang ratu kemana saja.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 ini diperkirakan masih diatas lima persen, jauh melebihi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan IMF hanya berada di kisaran 2-3 persen. Namun, faktor fundamental ini lagi-lagi ditanggapi dingin. Puluhan saham di BEI yang sudah undervalued bahkan diperdagangkan dengan harga recehan (penny stock) tidak juga menarik minat investor. Yang ada, aksi jual membabi-buta beberapa kali membuat Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam, bahkan melebihi pelemahan indeks Dow Jones di AS dalam sehari. Menyedihkan!!. Keruntuhan harga saham juga membawa dampak negatif terhadap nilai tukar rupiah yang belakangan ini diperdagangkan.
Ditinjau dari logika ekonomi, fakta-fakta diatas menjadi irasional karena harga saham tidak lagi mencerminkan nilai intrinsik atau faktor fundamentalnya. Hal apakah yang bisa menjelaskan semua ini?. Hal ini senada seperti yang dikatakan Dorsey, (2003) “Human behaviour is the key determinants of the market”. Ini menegaskan bahwa kunci pergerakan harga saham bukanlah faktor fundamental dan teknikal, melainkan perilaku manusia (investor, red).
Perilaku itu dibentuk oleh keyakinan (level confidence) dan harapan (expectation) investor. Di saat pasar bergerak naik (bullish), keyakinan dan harapan investor cukup tinggi, melebihi hitung-hitungan fundamental. Sebaliknya, ketika pasar melemah (bearish), keyakinan dan harapan pasar teramat rendah, sekalipun faktor fundamental cukup menjanjikan.
Studi pengaruh perilaku manusia dalam menggerakkan roda perekonomian sudah dilakukan para ekonom dunia sejak lama, setidaknya mulai era Adam Smith di abad ke-18. Dalam bukunya, The Money Game, bapak ekonomi kapitalisme itu membagi perilaku alamiah manusia menjadi dua bagian, perilaku ketakutan (fear) dan perilaku keserakahan (greed).
Ketika perilaku keserakahan lebih dominan, maka perekonomian akan berjalan sangat cepat, yang kemudian bisa menggelembung dan pecah, seperti yang telah dialami dunia ini beberapa kali. Gerak cepat perekonomian ini didorong aksi-aksi spekulasi yang bermunculan ketika perilaku serakah menguat. Sebaliknya, di saat perilaku ketakutan mendominasi, maka perekonomian akan melambat, bahkan jalan di tempat. Pelaku ekonomi menjadi cenderung menunggu daripada menciptakan langkah terobosan.
Dalam konteks pasar modal, kedua perilaku itu merupakan akselerator dari tren pergerakan indek saham. Terjadinya krisis keuangan AS pada saat ini adalah contoh nyata perubahan perilaku investor, dari serakah menjadi cemas dan takut. Perilaku investor juga pernah diteliti Krugman (2004), pemenang nobel ekonomi tahun 2008, mengatakan bahwa salah satu perilaku investor global adalah perilaku mengikuti isyarat kawanan (run with herd).
Perilaku kawanan (Herding Behaviour) ini berkembang pesat ketika korelasi antar pasar finansial dunia menjadi sangat tinggi. Globaliasasi finansial membuat perilaku investor di suatu bursa-biasanya bursa yang lebih besar-akan ikuti oleh investor di bursa lainnya. Yang juga marak terjadi di pasar modal adalah perilaku Noise Trading Behaviour atau perilaku mengikuti rumor. Perilaku ini muncul akibat banyaknya rumor yang sengaja dihembuskan untuk memicu kegaduhan dan kesimpangsiuran di saat kondisi pasar tidak normal. Perilaku ini menunjukkan bagaimana investor akan berlomba melakukan aksi beli jika mendengar rumor positif dan sebaliknya melakukan aksi jual secara masif jika rumornya negatif.

Antisipasi
Investor emerging market adalah investor yang paling mudah dihinggapi semua perilaku diatas. Perilaku-perilaku inilah yang sesungguhnya menjadi akselerator penyebaran krisis. Krisis keuangan yang semula terjadi di AS menjalar menjadi krisis keuangan global. Krisis Wallstreet merambat menjadi krisis di Bursa Efek Indonesia. Tidak seorang pun dapat meramal dengan tepat kapan perekonomian global pulih. Yang pasti, sepanjang investor di BEI masih terbelenggu oleh keyakinan dan ekpektasi negatif, maka masa bearish akan bertambah panjang.
Kita tentu tidak ingin kondisi ini berlangsung lama. Untuk itu, keyakinan dan harapan investor perlu dibangun dalam porsi yang tepat, sesuai dengan fakta dan kondisi sebenarnya. Membangun keyakinan dan harapan investor ini, misalnya dengan mempercepat, memperbanyak, dan meningkatkan kualitas program-program edukasi pasar modal. Edukasi ini perlu menekankan bahwa pasar modal adalah wadah investasi jangka panjang yang lebih mempertimbangkan faktor fundamental dibanding lainnya.
Ketika dasar pertimbangan adalah fundamental, investor akan mengukur nilai dan pertumbuhan harga saham beserta segala risikonya secara lebih wajar. Keyakinan dan harapan investor pun akan diletakkan pada tingkat yang wajar, bukan berdasarkan ketakutan maupun keserakahan yang mengakibatkan investor tidak berbuat apa-apa atau justru spekulatif. Berbagai program edukasi memang tidak lantas membentuk horison investasi seluruh investor menjadi jangka panjang. Bagaimanapun, investor-investor jangka pendek yang cenderung lebih spekulatif tetap akan ada dan kadangkala dibutuhkan untuk menjaga likuiditas pasar.
Namun, porsi investor jangka panjang yang lebih besar haruslah terus diupayakan. Karena, ketika sebuah perekonomian didominasi oleh pelaku yang spekulatif, maka perekonomian itu akan menjadi tidak stabil serta mengarah pada krisis dan resesi. Setidaknya, itulah yang disampaikan Hyman Minsky, pelopor teori Instabilitas Finansial. Selain edukasi, hal mendesak lainnya untuk dilakukan adalah mewujudkan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien. Berbagai bentuk pelanggaran, seperti manipulasi pasar dan penyesatan informasi, harus dihentikan dengan menajatuhkan sanksi berat kepada para pelakunya tanpa pandang bulu. Prinsip keterbukaan informasi harus tetap dijunjung tinggi, baik oleh emiten, perusahaan efek, apalagi oleh otoritas.
Terwujudnya pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien akan menjadi oase bagi investor di tengah tingginya ketidakpastian dunia investasi belakangan ini. Dengan itu, kekhawatiran masyarakat bahwa investasi di pasar modal hanya akan menjadi permainan spekulan atau orang-orang serakah yang melakukan manipulasi tingkat tinggi, akan hilang atau paling tidak berkurang. Akhirnya, dengan kandungan edukasi pasar modal yang cukup memadai serta arena permainan (bursa, red) yang teratur, wajar, dan efisien, pelaku pasar modal kita akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka akan menjadi investor yang rasional, yang tidak lagi sekadar menjadi pengekor

Referensi
Dorsey, Woody, (2003), Behavioral Trading; Methods for Measuring Investor Confidence and Expectations by Woody Dorsey. Published by Texere. ISBN 1-58799-164-0.

Krugman, Paul, (2004), The Great Unraveling, Published by W.W. Norton, ISBN 978-0-393-32605-5

Nainggolan, Reinhard, (2009), Saatnya Menegakkan Kedaulatan Pasar Modal Indonesia
>

Free Blog Templates

Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (QS. Al-An'âm [6]: 162-163)

Blog Tricks

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu'alaikum warahmatullah, Jaroe dua blah lon beu'et teuma, Saleum ulon brie keu mandum rakan, Bak Allah teuman lon lakee do'a

Easy Blog Tricks

Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melakukan kehilafan, berputus asa dengan kehilafan yang telah dilakukan itu. Menangislah disebabkan kehilafan yang kamu lakukan, wahai Ibn ‘Imran.

If You Don't Respect Yourself, You Can't Hope To Get Respect From Others

PDF

Blog Tutorial

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.

Mutiara dari Baginda Nabi SAW

Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan.

Category 4

Sample Text

Category 5

Herding Behaviour

Bagaikan kerumunan lebah yang terbang mengikuti sang ratu kemana saja, demikianlah perilaku investor di pasar modal. Keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada faktor fundamental, melainkan kemana kerumunan lebah akan terbang!
Krisis finansial Amerika Serikat pada tahun 2008 memberikan dampak negatif ke pasar modal Indonesia. Harga saham tergerus sekalipun fundamental perekonomian dan mayoritas perusahaan publik kita cukup baik. Semuanya berawal dari aksi melepas saham oleh investor asing yang tengah membutuhkan likuiditas. Kondisi ini diperparah sikap investor domestik yang tidak mau ketinggalan: bagaikan kerumuman lebah terbang mengikuti sang ratu kemana saja.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 ini diperkirakan masih diatas lima persen, jauh melebihi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan IMF hanya berada di kisaran 2-3 persen. Namun, faktor fundamental ini lagi-lagi ditanggapi dingin. Puluhan saham di BEI yang sudah undervalued bahkan diperdagangkan dengan harga recehan (penny stock) tidak juga menarik minat investor. Yang ada, aksi jual membabi-buta beberapa kali membuat Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam, bahkan melebihi pelemahan indeks Dow Jones di AS dalam sehari. Menyedihkan!!. Keruntuhan harga saham juga membawa dampak negatif terhadap nilai tukar rupiah yang belakangan ini diperdagangkan.
Ditinjau dari logika ekonomi, fakta-fakta diatas menjadi irasional karena harga saham tidak lagi mencerminkan nilai intrinsik atau faktor fundamentalnya. Hal apakah yang bisa menjelaskan semua ini?. Hal ini senada seperti yang dikatakan Dorsey, (2003) “Human behaviour is the key determinants of the market”. Ini menegaskan bahwa kunci pergerakan harga saham bukanlah faktor fundamental dan teknikal, melainkan perilaku manusia (investor, red).
Perilaku itu dibentuk oleh keyakinan (level confidence) dan harapan (expectation) investor. Di saat pasar bergerak naik (bullish), keyakinan dan harapan investor cukup tinggi, melebihi hitung-hitungan fundamental. Sebaliknya, ketika pasar melemah (bearish), keyakinan dan harapan pasar teramat rendah, sekalipun faktor fundamental cukup menjanjikan.
Studi pengaruh perilaku manusia dalam menggerakkan roda perekonomian sudah dilakukan para ekonom dunia sejak lama, setidaknya mulai era Adam Smith di abad ke-18. Dalam bukunya, The Money Game, bapak ekonomi kapitalisme itu membagi perilaku alamiah manusia menjadi dua bagian, perilaku ketakutan (fear) dan perilaku keserakahan (greed).
Ketika perilaku keserakahan lebih dominan, maka perekonomian akan berjalan sangat cepat, yang kemudian bisa menggelembung dan pecah, seperti yang telah dialami dunia ini beberapa kali. Gerak cepat perekonomian ini didorong aksi-aksi spekulasi yang bermunculan ketika perilaku serakah menguat. Sebaliknya, di saat perilaku ketakutan mendominasi, maka perekonomian akan melambat, bahkan jalan di tempat. Pelaku ekonomi menjadi cenderung menunggu daripada menciptakan langkah terobosan.
Dalam konteks pasar modal, kedua perilaku itu merupakan akselerator dari tren pergerakan indek saham. Terjadinya krisis keuangan AS pada saat ini adalah contoh nyata perubahan perilaku investor, dari serakah menjadi cemas dan takut. Perilaku investor juga pernah diteliti Krugman (2004), pemenang nobel ekonomi tahun 2008, mengatakan bahwa salah satu perilaku investor global adalah perilaku mengikuti isyarat kawanan (run with herd).
Perilaku kawanan (Herding Behaviour) ini berkembang pesat ketika korelasi antar pasar finansial dunia menjadi sangat tinggi. Globaliasasi finansial membuat perilaku investor di suatu bursa-biasanya bursa yang lebih besar-akan ikuti oleh investor di bursa lainnya. Yang juga marak terjadi di pasar modal adalah perilaku Noise Trading Behaviour atau perilaku mengikuti rumor. Perilaku ini muncul akibat banyaknya rumor yang sengaja dihembuskan untuk memicu kegaduhan dan kesimpangsiuran di saat kondisi pasar tidak normal. Perilaku ini menunjukkan bagaimana investor akan berlomba melakukan aksi beli jika mendengar rumor positif dan sebaliknya melakukan aksi jual secara masif jika rumornya negatif.

Antisipasi
Investor emerging market adalah investor yang paling mudah dihinggapi semua perilaku diatas. Perilaku-perilaku inilah yang sesungguhnya menjadi akselerator penyebaran krisis. Krisis keuangan yang semula terjadi di AS menjalar menjadi krisis keuangan global. Krisis Wallstreet merambat menjadi krisis di Bursa Efek Indonesia. Tidak seorang pun dapat meramal dengan tepat kapan perekonomian global pulih. Yang pasti, sepanjang investor di BEI masih terbelenggu oleh keyakinan dan ekpektasi negatif, maka masa bearish akan bertambah panjang.
Kita tentu tidak ingin kondisi ini berlangsung lama. Untuk itu, keyakinan dan harapan investor perlu dibangun dalam porsi yang tepat, sesuai dengan fakta dan kondisi sebenarnya. Membangun keyakinan dan harapan investor ini, misalnya dengan mempercepat, memperbanyak, dan meningkatkan kualitas program-program edukasi pasar modal. Edukasi ini perlu menekankan bahwa pasar modal adalah wadah investasi jangka panjang yang lebih mempertimbangkan faktor fundamental dibanding lainnya.
Ketika dasar pertimbangan adalah fundamental, investor akan mengukur nilai dan pertumbuhan harga saham beserta segala risikonya secara lebih wajar. Keyakinan dan harapan investor pun akan diletakkan pada tingkat yang wajar, bukan berdasarkan ketakutan maupun keserakahan yang mengakibatkan investor tidak berbuat apa-apa atau justru spekulatif. Berbagai program edukasi memang tidak lantas membentuk horison investasi seluruh investor menjadi jangka panjang. Bagaimanapun, investor-investor jangka pendek yang cenderung lebih spekulatif tetap akan ada dan kadangkala dibutuhkan untuk menjaga likuiditas pasar.
Namun, porsi investor jangka panjang yang lebih besar haruslah terus diupayakan. Karena, ketika sebuah perekonomian didominasi oleh pelaku yang spekulatif, maka perekonomian itu akan menjadi tidak stabil serta mengarah pada krisis dan resesi. Setidaknya, itulah yang disampaikan Hyman Minsky, pelopor teori Instabilitas Finansial. Selain edukasi, hal mendesak lainnya untuk dilakukan adalah mewujudkan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien. Berbagai bentuk pelanggaran, seperti manipulasi pasar dan penyesatan informasi, harus dihentikan dengan menajatuhkan sanksi berat kepada para pelakunya tanpa pandang bulu. Prinsip keterbukaan informasi harus tetap dijunjung tinggi, baik oleh emiten, perusahaan efek, apalagi oleh otoritas.
Terwujudnya pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien akan menjadi oase bagi investor di tengah tingginya ketidakpastian dunia investasi belakangan ini. Dengan itu, kekhawatiran masyarakat bahwa investasi di pasar modal hanya akan menjadi permainan spekulan atau orang-orang serakah yang melakukan manipulasi tingkat tinggi, akan hilang atau paling tidak berkurang. Akhirnya, dengan kandungan edukasi pasar modal yang cukup memadai serta arena permainan (bursa, red) yang teratur, wajar, dan efisien, pelaku pasar modal kita akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka akan menjadi investor yang rasional, yang tidak lagi sekadar menjadi pengekor

Referensi
Dorsey, Woody, (2003), Behavioral Trading; Methods for Measuring Investor Confidence and Expectations by Woody Dorsey. Published by Texere. ISBN 1-58799-164-0.

Krugman, Paul, (2004), The Great Unraveling, Published by W.W. Norton, ISBN 978-0-393-32605-5

Nainggolan, Reinhard, (2009), Saatnya Menegakkan Kedaulatan Pasar Modal Indonesia

Featured Video

.

Selamat Menonton Yaa!!

About Me

Aku cowok tetapi tdk suka brewok/Aku pengajar, tetapi tidak suka belajar/Aku tidak suka maksiat, tetapi hidup ku juga belum sesuai dengan syariat.

Followers

About Me

Lhokseumawe, Nanggroe Atjeh Darussalam
Aku cowok tetapi tdk suka brewok/Aku pengajar, tetapi tidak suka belajar/Aku tidak suka maksiat, tetapi hidup ku juga belum sesuai dengan syariat.

Blog Archive

TV Dakwah

Sarana Sunnah TV | Menambahkan Khasanah Ilmu Berdasarkan Al-Quran dan Sunnah

Photos

Blog Worth

Glider Content

Islamic Centre di Lhokseumawe

Islamic Centre di Lhokseumawe
.

Links

Rank & Visitors

Rank & Visitors

Web Site Traffic Counter

Ads

Pages

Advertisement

Search

Memuat...

Copyright Text